Selasa, 09 Maret 2010

Prabu Brawijaya

Prabu Brawijaya atau kadang disebut BrawijayaV adalah raja terakhir Kerajaan Majapahit versi naskah-naskah babad dan serat, beliau memerintah sampai tahun 1478. namun, tokoh ini diperkirakan sebagai tokoh fiksi namun sangat legendaris. Ia sering dianggap sama dengan Bhre Kertabhumi, yaitu nama yang ditemukan dalam penutupan naskah Pararaton dan kronik kuil Sam Po Kong di Semarang. Namun pendapat lain mengatakan bahwa Brawijaya cenderung identik dengan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, yaitu tokoh yang pada tahun 1486 mengaku sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri.

Dalam 'Babad Tanah Jawi' menyebut nama asli Brawijaya adalah Raden Alit yang naik tahta menggantikan ayahnya yang bernama Prabu Bratanjung, dan kemudian memerintah dalam waktu yang sangat lama, yaitu sejak putra sulungnyayang bernama Arya Damar belum lahir, sampai akhirnya turun takhta karena dikalahkan oleh putranya yang lain, yaitu Raden Patah yang juga anak tiri Arya Damar.

Sementara itu, Serat Kanda menyebut nama asli Brawijaya adalah Angkawijaya, putra Prabu Mertawijaya dan Ratu Kencanawungu. Mertawijaya adalah nama gelar Damarwulan yang menjadi raja Majapahit setelah mengalahkan Menak Jingga bupati Blambangan. Sementara itu pendiri Kerajaan Majapahit versi naskah babad dan serat bernama Jaka Sesuruh, bukan Raden Wijaya sebagaimana fakta yang sebenarnya terjadi. Menurut Serat Pranitiradya, yang bernama Brawijaya bukan hanya raja terakhir saja, tetapi juga beberapa raja sebelumnya. Naskah serat ini menyebut urutan raja-raja Majapahit ialah:

* Jaka Sesuruh bergelar Prabu Bratana
* Prabu Brakumara
* Prabu Brawijaya I
* Ratu Ayu Kencanawungu
* Prabu Brawijaya II
* Prabu Brawijaya III
* Prabu Brawijaya IV
* Prabu Brawijaya V

Masa pemerintahan Brawijaya V dikisahkan berakhir akibat serangan putranya sendiri yang bernama Raden Patah pada tahun 1478. Raden Patah kemudian menjadi raja pertama Kesultanan Demak, bergelar Panembahan Jimbun.

Asal Usul Nama
Meskipun sangat populer, nama Brawijaya ternyata tidak pernah dijumpai dalam naskah Pararaton ataupun prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, perlu diselidiki dari mana para pengarang naskah babad dan serat memperoleh nama tersebut.

Nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna “baginda”. Sedangkan gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang bermakna "baginda di". Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara Wijaya.

Menurut catatan Tome Pires yang berjudul Suma Oriental, pada tahun 1513 di Pulau Jawa ada seorang raja bernama Batara Vigiaya. Ibu kota kerajaannya terletak di Dayo. Pemerintahannya hanya bersifat simbol, karena yang berkuasa penuh adalah mertuanya yang bernama Pate Amdura. Batara Vigiaya, Dayo, dan Pate Amdura adalah ejaan Portugis untuk Bhatara Wijaya, Daha, dan Patih Mahodara Tokoh Bhatara Wijaya ini kemungkinan identik dengan Dyah Ranawijaya yang mengeluarkan prasasti Jiyu tahun 1486, di mana ia mengaku sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri. Pusat pemerintahan Dyah Ranawijaya terletak di Daha. Dengan kata lain, saat itu Daha adalah ibu kota Kadiri (bukan Majapahit).

Babad Sengkala mengisahkan pada tahun 1527 Kadiri atau Daha runtuh akibat serangan Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak. Saat itu penguasa Daha masih dijabat oleh Bhatara Ranawijaya. Mungkin Bhatara Ranawijaya inilah yang namanya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa sebagai raja Majapahit yang terakhir, yang namanya kemudian disingkat sebagai Brawijaya. Namun, karena istilah Majapahit identik dengan daerah Trowulan, Mojokerto, maka Brawijaya pun "ditempatkan" sebagai raja yang memerintah di sana, bukan di Daha (Kadiri).

Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan menurut ingatan masyarakat Jawa berakhir pada tahun 1478. Oleh karena itu, Brawijaya pun dikisahkan meninggal pada tahun tersebut. Padahal Bhatara Ranawijaya diketahui masih mengeluarkan prasasti Jiyu tahun 1486. Rupanya para pujangga penulis naskah babad dan serat tidak mengetahui kalau setelah tahun 1478 pusat Kerajaan Majapahit berpindah dari Trowulan menuju Daha.

Bhre Kertabhumi dalam Pararaton
Pararaton hanya menceritakan sejarah Kerajaan Majapahit yang berakhir pada tahun 1478 Masehi (atau tahun 1400 Saka). Pada bagian penutupan naskah tersebut tertulis:

Bhre Pandansalas menjadi Bhre Tumapel kemudian menjadi raja pada tahun Saka 1388, baru menjadi raja dua tahun lamanya kemudian pergi dari istana anak-anak Sang Sinagara yaitu Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, dan yang bungsu Bhre Kertabhumi terhitung paman raja yang meninggal dalam istana tahun Saka 1400.

Kalimat penutupan Pararaton tersebut terkesan ambigu. Tidak jelas siapa yang pergi dari istana pada tahun Saka 1390, apakah Bhre Pandansalas ataukah anak-anak Sang Sinagara. Tidak jelas pula siapa yang meninggal dalam istana pada tahun Saka 1400, apakah Bhre Kertabhumi, ataukah raja sebelumnya.
Teori yang cukup populer menyebut Bhre Kertabhumi sebagai tokoh yang meninggal tahun 1400 Saka (1478 Masehi). Teori ini mendapat dukungan dengan ditemukannya naskah kronik Cina dari kuil Sam Po Kong Semarang yang menyebut nama Kung-ta-bu-mi sebagai raja Majapahit terakhir. Nama Kung-ta-bu-mi ini diperkirakan sebagai ejaan Cina untuk Bhre Kertabhumi.

Sementara itu dalam Serat Kanda disebutkan bahwa, Brawijaya adalah raja terakhir Majapahit yang dikalahkan oleh Raden Patah pada tahun Sirna ilang KERTA-ning BUMI, atau 1400 Saka. Atas dasar berita tersebut, tokoh Brawijaya pun dianggap identikdengan Bhre Kertabhumi atau Kung-ta-bu-mi. Perbedaannya ialah, Brawijaya memerintah dalam waktu yang sangat lama sedangkan pemerintahan Bhre Kertabhumi relatif singkat.

Kung-ta-bu-mi dalam Kronik Cina di Kuil Sam Po Kong
Naskah kronik Cina yang ditemukan dalam kuil Sam Po Kong di Semarang antara lain mengisahkan akhir Kerajaan Majapahit sampai berdirinya Kerajaan Pajang. Dikisahkan, raja terakhir Majapahit bernama Kung-ta-bu-mi. Salah satu putranya bernama Jin Bun yang dibesarkan oleh Swan Liong, putra Yang-wi-si-sa dari seorang selir Cina. Pada tahun 1478 Jin Bun menyerang Majapahit dan membawa Kung-ta-bu-mi secara hormat ke Bing-to-lo.

Kung-ta-bu-mi merupakan ejaan Cina untuk Bhre Kertabhumi. Jin Bun dari Bing-to-lo adalah Panembahan Jimbun alias Raden Patah dari Demak Bintara. Swan Liong identik dengan Arya Damar. Sedangkan Yang-wi-si-sa bisa berarti Hyang Wisesa alias Wikramawardhana, atau bisa pula Hyang Purwawisesa. Keduanya sama-sama pernah menjadi raja di Majapahit.

Menurut kronik Cina di atas, Raden Patah adalah putra Bhre Kertabhumi, sedangkan Swan Liong adalah putra Hyang Wisesa dari seorang selir berdarah Cina. Kisah ini terkesan lebih masuk akal daripada uraian versi babad dan serat.
Selanjutnya dikisahkan pula, setelah kekalahan Kung-ta-bu-mi, Majapahit pun menjadi bawahan Demak. Bekas kerajaan besar ini kemudian diperintah oleh Nyoo Lay Wa, seorang Cina muslim sebagai bupati. Pada tahun 1486 Nyoo Lay Wa tewas karena unjuk rasa penduduk pribumi. Maka, Jin Bun pun mengangkat iparnya, yaitu Pa-bu-ta-la, menantu Kung-ta-bu-mi, sebagai bupati baru.

Tokoh Pa-bu-ta-la identik dengan Prabhu Natha Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya dalam prasasti Jiyu 1486. Jadi, menurut berita Cina tersebut, Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya adalah saudara ipar sekaligus bupati bawahan Raden Patah. Dengan kata lain, Bhra Wijaya adalah menantu Bhre Kertabhumi menurut kronik Cina.

Menurut Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, tokoh Arya Damar adalah anak Brawijaya dari seorang raksasa perempuan bernama Endang Sasmintapura. Jadi, Arya Damar adalah kakak tiri sekaligus ayah angkat Raden Patah.

Teori keruntuhan Majapahit
Peristiwa runtuhnya Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto diyakini terjadi pada tahun 1478, namun sering diceritakan dalam berbagai versi, antara lain:

· Raja terakhir adalah Brawijaya. Ia dikalahkan oleh Raden Patah dari Demak Bintara. Konon Brawijaya kemudian masuk Islam melalui Sunan Kalijaga. Ada pula yang mengisahkan Brawijaya melarikan diri ke Pulau Bali. Meskipun teori yang bersumber dari naskah-naskah babad dan serat ini uraiannya terkesan khayal dan tidak masuk akal, namun sangat populer dalam masyarakat Jawa.


* Raja terakhir adalah Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Raden Patah. Setelah itu Majapahit menjadi bawahan Kesultanan Demak. Teori ini muncul berdasarkan ditemukannya kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong Semarang.
* Raja terakhir adalah Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya. Teori ini muncul berdasarkan penemuan prasasti Petak yang mengisahkan pernah terjadi peperangan antara keluarga Girindrawardhana dari Keling melawan Majapahit.
* Raja terakhir adalah Bhre Pandan Salas yang dikalahkan oleh anak-anak Sang Sinagara. Teori ini muncul karena Pararaton tidak menyebutkan secara jelas apakah Bhre Kertabhumi merupakan raja terakhir Majapahit atau bukan. Selain itu kalimat sebelumnya juga terkesan ambigu, apakah yang meninggalkan istana pada tahun 1390 Saka (1468 Masehi) adalah Bhre Pandansalas, ataukah anak-anak Sang Sinagara. Teori yang menyebut Bhre Pandan Salas sebagai raja terakhir mengatakan kalau pada tahun 1478, anak-anak Sang Sinagara kembali untuk menyerang Majapahit. Jadi, menurut teori ini, Bhre Pandansalas mati dibunuh oleh Bhre Kertabhumi dan saudara-saudaranya pada tahun 1478.

Pemakaian nama Brawijaya
Meskipun kisah hidupnya dalam naskah babad dan serat terkesan khayal dan tidak masuk akal, namun nama Brawijaya sangat populer, terutama di daerah Jawa Timur. Hampir setiap kota di Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur menggunakan Brawijaya sebagai nama jalan. Nama Brawijaya juga diabadikan menjadi nama suatu perguruan tinggi negeri di Kota Malang, yaitu Universitas Brawijaya. Juga terdapat Stadion Brawijaya dan Museum Brawijaya di kota yang sama. Di samping itu kesatuan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat yang meliputi daerah Jawa Timur dikenal dengan nama Kodam V/Brawijaya.

Masyarakat Indonesia merupakan individu-individu yang kaya akan tradisi lisan mereka, penuturan kisah dalam ruamg lingkup sejarah terkadang kabur dengan adanya sumber lisan, namun sumber lisan merupakan sebuah bentuk khasanah yang patut ditinjau dalam menelusuri warisan budaya di Indonesia. Nama Brawijaya dalam susut pandang keilmuan mungkin terdengar sedikit absurd jika berpatokan terhadap bukti-bukti yang ada, namun masyarakat kita khususnya di jawa, mengenalnya demikian dan menyampaikan kisahnya secara apik sama halnya demikian. hingga nama tersebut mendapat tempat tersendiri dalam dimensi ketokohan yang di puja. dalam tataran seperti ini maka akan timbul sebuah tambal sulam sumber yang dapat memperkaya atau menambahkan sumber-sumber yang telah ada sebelumnya yang berangkat dari data dengan keumuman yang ada.

Referensi
Andjar Any. 1989. Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon. Semarang: Aneka Ilmu
Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid 3). 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
Babad Tanah Jawi. 2007. (terjemahan). Yogyakarta: Narasi
H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terjemahan). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Jindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS

Austronesia dalam Sejarah: Asal Usul dan Bermacam-Macam Perubahan

Austronesia dalam Sejarah: Asal Usul dan Bermacam-Macam Perubahan
Peter Bellwood, James J. Fox, Darrel Tyron
28 May 2009
Bahasa Austronesia membentuk sebuah kesatuan keluarga yang sama dalam derajat perbedaan internal dan kedalaman waktu dengan bahasa besar lainya seperti Austroasiatik, Uto-Aztecan, dan Indo-Eropa. Sebelum 1500 SM, bahasa Austronesia termasuk salah satu keluarga bahasa yang paling banyak tersebar di dunia, dengan tingkat penyebaran lebih dari setengah jarak mengelilingi dunia, dari Madagaskar ke Kepulauan Easter. Sekarang, kelompok penutur bahasa Austronesia terdiri dari hampir atau semua populasi asli Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Madagaskar. Bahasa Austronesia juga dapat ditemukan di Taiwan (tempat yang diduga sebagai asal dari manusia Austronesia yang pertama), di bagian selatan Vietnam dan Kamboja, Kepulauan Mergui, Kepulauan Hainan di selatan Cina. Lebih jauh ke arah timur, bahasa Austronesia dituturkan di beberapa wilayah pantai di Papua Nugini, New Britain, New Ireland, dan di bagian rantai Kepulauan Melanesian yang melewati Kepulauan Solomon dan Vanuatu; juga New Caledonia dan Fiji. Dari sana mereka menyebar ke arah timur, mencakup semua bahasa Polinesia, dan ke arah utara mencakup semua bahasa Mikronesia.

Diperkirakan terdapat antara 1.000 sampai 1.200 bahasa Austronesia yang berbeda, berdasarkan kriteria bahasa yang membedakan bahasa dan dialek. Bahasa-bahasa ini dituturkan oleh sekitar 270 juta orang, di mana persebarannya benar-benar tidak merata. Sekitar dua juta penutur bahasa Austronesia hidup di daerah garis barat yang ditarik dari utara ke selatan sekitar 130º garis bujur timur, memanjang dari arah barat Kepulauan Caroline ke arah timur Bird’s Head di Pulau New Guinea. Penyebaran bahasa-bahasa ini pada area penutur Austronesia, bagaimana juga, berhubungan erat dengan lebih dari 500 bahasa pada sisi garis pembagi 130º garis bujur timur.

Bahasa-Bahasa Austronesia: Saksi Keturunan Biologis dan Kultural pada Tingkat Populasi
Fakta yang mengatakan bahwa banyak orang seharusnya berbicara bahasa-bahasa yang berhubungan dengan Austronesia sangatlah menarik, tetapi apakah fakta linguistik ini menjelaskan keseluruhan asal usul biologis dan kultural, dan juga sejarah dari populasi ini dengan cara yang baik? Bagaimana pun, semua orang yang berbicara bahasa-bahasa ini sekarang tidaklah serupa secara fisik. Akan muncul banyak tantangan, sebagai contoh, dalam membedakan mereka berdasarkan rata-rata penampilan hasil perkawinaan manusia penutur bahasa Austronesia Punan (Kalimantan), Agta (Luzon), Fijian dan Tahitian yang asli. Pengumpul kayu hutan dari Punan, Muslim Melayu urban di Kuala Lumpur, dan penghuni pulau karang Mikronesia akan tampak memiliki sedikit persamaan dalam segi sosial-ekonomi dan keagamaan. Penampilan fisik dan kultural yang nampak dimanfaatkan sebagai jalur identitas kesukuan di banyak masyarakat komunitas modern, namun jalur semacam ini tidaklah kaku. Bahkan observasi terkini pada masyarakat modern di mana saja didunia ini akan memunculkan sedikit keraguan bahwa seseorang dalam masyarakat dapat menikah dengan orang dengan latar belakang biolois dan kultur yang berbeda; mengubah bahasa ibu mereka, atau mengadopsi kebudayaan baru dan gaya hidup ketika kondisi memungkinkan.

Namun bukan berarti semua orang atau masyarakat telah menjalani sebuah transisi fundamental sampai pada titik tertentu. Mayoritas dari individual di kebanyakan masyarakat dimasa lalu atau mungkin pada di masa kini, mengakhiri hidup mereka dalam cetakan kultur yang sama dengan seperti yang mereka mulai, menikahi pasangan mereka dan melahirkan keturunan yang mirip dalam penampilan fisik dan latar belakang kultur seperti diri mereka. Dalam beberapa masyarakat, hubungan kekeluargaan konservatif semacam ini nampak mendominasi diseluruh bagian sejarah, dimana disisi lain terdapat tekanan yang kuat untuk bercampur dengan populasi yang lain dan menciptakan tanda-tanda kultural dan biologis yang baru.

Demikian juga komunitas Austronesia; mereka telah benar-benar berubah di masa lalu. Dan diantara mereka terdapat bukti linguistic, biologis, dan arkeologis yang menunjukan tingkatan-tingkatan yang membedakan asal-muasal umum dari sekitar 6.000 tahun lalu. Komunitas Austronesia dengan jelas telah terbagi dan terdiversifikasi oleh sebuah cara yang rumit, dan inilah salah satu alasan mengapa penelitian masyarakat Asia Tenggara dan Oseania, baik dimasa lalu dan masa modern, dapat menjadi sebuah hal yang penuh tipuan dan juga berharga.

Orang-orang yang skeptik mungkin mempertanyakan leluhur mana—dalam hal kultural dan hal biologis—yang benar-benar termasuk kedalam 270 juta manusia penutur bahasa Austronesia pada saat ini. Pertanyaan ini sangatlah sulit untuk dijawab dengan mutlak karena setiap masyarakat Asutronesia memiliki sejarah yang berbeda dan akan sia-sia untuk menentukan tingkatan dari para penerima warisan “ke-Austronesia-an”. Namun beberapa pihak akan menolak penjelasan bahwa bahasa Austronesia disebarkan secara turun-temurun dengan cara peminjaman atau penyatuan populasi statis yang ada sebelumnya. Dengan kata lain, manusia-manusia yang tidak berpindah tempat telah terlebih dahulu menjadi beraneka ragam dan tidak serta merta “meminjam” bahasa Austronesia, walaupun penyebaran semacam itu mungkin telah terjadi di Melanesia Barat. Apakah setiap bahasa Austronesia menyebar hanya dengan cara itu, kita akan sulit menemukan pola penyebaran yang tidak terputus, bebas dari peristiwa linguistik substratum yang beraneka ragam di semua wilayah yang terpisah dari Melanesia Barat dan daratan Asia Tenggara.

Gambaran keseluruhan itu sangatlah masuk akal bagi pulau-pulau yang terhempas di Pasifik dan Madagaskar, bila seseorang menerimaversi keturunan dari bahasa Austronesia modern disebarkan sebagian besar oleh bangsa penjajah. Mungkin akan ada pengecualian dalam proses penyebaran bahasa memalui penjajahan, seperti yang kita ketahui dalam persebaran bahasa nasional modern masa kini seperti bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Tetapi dalam skala kelompok-bahasa-keseluruhan dengan penyebaran dan kedalaman waktu yang luas, tidak ada penjelasan lain yang masuk akal kecuali penyebaran oleh kolonisasi.

Sementara pembenaran prinsipal untuk warisan umum Austronesia adalah berdasarkan ilmu linguistik, kita dapat juga mengetahui benang sejarah, di samping interaksi dan perubahan yang berabad-abad dalam arena kebudayaan dan biologis. Sebagai contoh, mayoritas pembicara bahasa Austronesia diluar Melanesia dan bagian dari Filipina adalah pertalian biologis manusia “Mongoloid Selatan” (atau Asia Tenggara).

Beberapa tingkatan dari warisan tersebut juga tampak dalam fenomena-fenomena dari karakteristik kebudayaan tertentu yang tersebar luas, seperti praktek tato, penggunaan tiang penyeimbang di bagian pinggir kano, seni ethnografik dan pra-historik, karakteristik sosial seperti hirearki yang ditentukan kelahiran, dan penghormatan pada leluhur yang membangun keluarga. Secara umum terdapat sedikit hal yang dapat digolongkan sebagai manusia Austronesia yang “eksklusif” atau “unik” pada masa modern diantara wilayah-wilayah penutur bahasa Austronesia, dan kita tidak harus mengharapkan kaeadaan semacam itu. Demikian juga dengan tema dari buku ini berkenaan pada dua pihak secara parsial, focus kepada sejarah leluhur pada satu sisi, dan kultur- dan wilayah-dengan perubahan yang khusus disisi lainnya.

Austronesia Sebagai Kesatuan Phylogenetic
Untuk mendapatkan aspek-aspek terkonsep yang lebih baik dari leluhur dan perbedaan-perbedaan yang ada diantara populasi dalam pengelompokan etholinguistic, dibutuhkan sebuah konsep “kesatuan phylogenetic”. Konsep ini baru-baru ini diterapkan pada salah satu cabang keluarga manusia Austronesia, yaitu manusia Polynesia, oleh Kirch dan Green (1987). Konsep ini dapat juga diterapkan pada seluruh Austronesia secara menyeluruh, sekalipun penerapannya dilakukan dalam skala ang lebih besar; baik ruang dan waktu. Pada dasarnya, ide dari hubungn phylogenetic berkisar pada asal mula dari sumber-sumber umum; dalam istilah cultural, ide ini dapat dikenali melalui pola dalam bahasa dan mayarakat, dalam istilah biologi dapat dikenali melalui konfigurasi kelompok genetik. Kesatuan phylogenetic, baik didefinisikan dari segi kebudayaan atau biologis, merupakan subjek dari proses pembedaan (divergence) atau radiasi terhadap elemen internal mereka melalui serangkaian proses seperti pemecahan populasi dengan pemisahan geografis yang subsekuen, kelompok manusia perintis atau reaksi kepunahan, adaptasi selektif untuk membedakan atau mengubah lingkungan, dan efek dari hubungan yang terjadi dengan masyarakat eksternal.

Mengidentifikasi masyarakat Asutronesia sebagai anggota dari kesatuan manusia phylogenetic Austronesia tidak menunjukan bahwa mereka masuk kedalam semacam spesies mahluk hidup dengan identitas yang tertutup. Kita mengetahui arti penting dari interaksi antara manusia Austronesia dan bermacam-macam populasi Non-Austronesia, tidak hanya dalam bidang bahasa tetapi juga dalam bidang biologi dan aspek kehidupan lainnya. Fakta tentang masa sejarah dan pra-sejarah manusia Austronesia 5000 tahun lalu menunjukan baik proses bifurcative (pencabangan) dan rhizotic dari sebuah perubahan cultural dalam sebuah terminology yang disokong oleh Moore (1994).

Sudah jelas bahwa untuk melakukan pendekatan terhadap pertanyaan tentang sejarah Austronesia dan leluhur dalam pengertian yang luas yang harus kita pisahkan, untuk tujuan heuristic, biologi, bahasa, dan kultur, walaupun banyak hal dalam kebudayaan yang terhubung pada bahasa. Bahasa, populasi dan kultur berevolusi, terbagi-bagi, dan bercampur melalui mekanisme yang overlapping. Ketika menentukan suatu hal dalam skala Austronesia secara keseluruhan, akan menjadi sangat naïf untuk menerima bahwa satu kesatuan linguistik, kultur, dan biologis, beserta batasan-batasan mereka harus berkorelasi secara tepat Walaupun secara relatif, kordinasi dan kolerasi tingkat tinggi merupakan bagian penting dari konsep kesatuan phylogenetic.

Salah satu implikasi utama dari buku ini adalah bahwa manusia Austronesia dan masyarakatnya terhubung oleh sebuah pencabangan, tetapi tidak tersegel oleh garis keturunan umum yang berjangka waktu kira-kira 6000 tahun. Namun semua orang yang ingin tahu mengenai sifat dasar dari manusia mungkin akan bertanya mengapa penyatuan semacam itu harus ada. Dengan kata lain, kenapa sebuah proses kolonisasi muncul, mencapai lebih dari setengah perjalanan mengelilingi bumi, dan batasan apa yang harus dihadapi atas tanda-tanda wilayah dari kolonisasi? Hal ini merupakan pertanyaan penting yang harus dipertimbangkan dari sisi sudut pandang yang berbeda. Mungkin tidak akan ada sebuah jawaban yang sederhana, namun pertanyaan itu layak untuk dipertanyakan.

Metode Perbandingan Dalam Linguistic dan Antropologi
Semua bahasa Austronesia dianggap meminjam bahasanya dari satu bahasa ibu, yang mungkin dituturkan di Taiwan pada sekitar 5000 tahun lalu. Banyak ahli menganggap bahwa keluraga bahasa Austronesia memiliki empat susunan sub kelompok teratas. Tiga diantaranya mencakup bahasa yang ada di Taiwan. Subgrup keempat—Malayo-Polinesian—termasuk semua bahasa Austronesia yang digunakan diluar Taiwan. Sub kelompok bahasa Austronesia inilah yang menjadi akar masalah dalam edisi ini.

Metode dasar yang digunakan untuk mengelompokkan bahasa Asutronesia adalah metode komparatif sejarah klasik, yang dikembangkan untuk mempelajari bahasa Indo-Eropa. Metode ini berdasarkan perbandingan sistematik dari bunyi-bunyi biasa yang berkorespondensi dengan bahasa sebagai langkah awal guna merekonstruksi bahasa kuno yang memunkinkan pencarian jejak bahasa ibu. Sekali rekonstruksi itu dicapai, bahasa individual dan kelompok bahasa dapat diteliti untuk menentukan inovasi apa yang mereka refleksikan berhubungan dengan bahasa kuno. Hal ini penting karena penyebaran inovasi-inovasi (phonological, morphosyntactic dan lexical) muncul diantara bahasa-bahasa dimana pengelompokan terjadi. Walaupun eksistensi dari bahasa Austronesia yang saling terhubung telah dikenali pada abad ke-17, penelitian komparatif sistematis Otto Dempwolff (1934-38) yang meletakkan dasar bagi banyak penelitian linguistik saat ini.

Pendekatan komparatif dalam studi Austronesia dalam antropologi telah jauh lebih bervariasi. Usaha penelitian yang berdasarkan wilayah telah berkontribusi pada studi Asutronesia dan secara bertahap untaian dari penelitian ini mulai bersatu dalam satu set ketertarikan dan pendekatan umum. Penelitian L.H. Morgan atas sistem kekeluargaan masyarakat Hawaii dan rancangan konstruksi keluarga “punaluan” (1870) dianggap sebagai kontribusi awal terhadap penelitian semacam ini, sama seperti penelitian sejarah komunitas Melanesia (1914) W.H.R. Rivers. Penelitian F. Eggan terhadap masyarakat Filipina yang mengarahkan laporannya penelitiannya pada metode perbandingan yang terarah (1954); karya W.H. Goodenough tentang Mikronesia yang memberikan dasar pada laporan miliknya yang terkenal tentang organisasi sosial Melayu-Polynesian (1958); investigasi Sahlins pada stratifikasi social di masyarakat Polynesia (1958) dan studi komparatif I. Goldman terhadap sistem status di Polynesia kuno (1970), semua penelitian tersebut telah berkontribusi terhadap studi komparatif umum terkait.

Bagian penting lainnya dari perpaduan komparatif adalah karya dari antropolog-antropolog Belanda di Indonesia. Pada tahun 1953, pada saat Dempwolf tengah mempublikasikan penelitian Austronesia-nya, antropolog Leiden, J.P.B de Josselin de Jong, mengemukakan ide penamaan untuk studi komparatif populasi Indonesia. Terinspirasi bukan oleh penelitian linguistik, melainkan studi Radcliffe-Brown “The Social Organization of Australian Tribes” (1935,1977), “The Malay Archipelago as a Filed of Ethnological Study” milik de Josselin de Jong merupakan sebuah set program penelitian yang terus berlangsung sampai sekarang.

Studi komparatif yang paling berpengaruh yang menginspirasi J.P.B. de Josselin de Jong berasal dri muridnya, F.A.E. van Wouden. Penelitian van Wouden terhadap komunitas-komunitas di Indonesia timur (1935, 1968) berusaha untuk mengidentifikasi fitur struktural tertentu dari komunitas-komunitas ini sebagai bentuk perkembangan dari bentuk organisasi social kuno sebelumnya—sebuah organisasi yang menirukan model penelitian Radcliffe-Brown untuk Australia. Antropolog kebangsaan Belanda lainnya, termasuk van Wouden, mengarahkan studi komparatif ini untuk menginformasikan penelitian ethnografi mereka tanpa harus menjalankannya dengan kaku. Perumusan ulang pada pendekatan “Ethnological Field of Study” menuntut adanya penelitian terhadap “inti struktur” bersama (P.E. de Josselin de Jong 1980, 1984), dan juga fokus pembelajaran lingusitik ini pada studi set umum kategori sosial bersama pemeliharaan berkala metafora yang sama untuk kehidupan (Fox 1980). Sebuah penekanan yang sama pada studi “historical metaphor” dan arti penting perbandingan yang dikembangkan oleh Sahlins dalam dalam penelitiannya terhadap Hawaii dan masyrakat pulau-pulau Pasifik lainnya (1981, 1985). Satu buktu yang menginspirasi cara pandang seperti ini adalah karya dari comparativist Indo-Eropa, George Dumézil.

Bagaimanapun juga, secara tegas dalam hubungannya terhadap studi masyarakat Indonesia, Fox (1980, 1988) berargumentasi bahwa untuk memelihara gagasan pada Bidang Pembelajaran Ethnologi membutuhkan sebuah pemahaman ulang atas hubungannya pada, dan sebagai bagian, dari studi komparatif bahasa Austronesia. Gagasan ini penting bagi perbandingan antara masyarakat Austronesia dan Non-Austronesia di wilayah seperti di Halmahera, dimana hubungan tersebut telah berlanjut untuk beberapa milenia (Platenkamp 1984; Bellwood 1994).

The Comparative Austronesian Project dimaksudkan untuk menyatukan semua pendekatan antropologi, arkeologi, dan linguistic untuk studi populasi penutur Austronesia dan mempopulerkan kerangka kerja umum untuk menginterpretasi warisan kebudayaan Austronesia. Disiplin keilmuan yang dipakai untuk menjelaskan warisan kebudayaan ini, temasuk didalamnya beberapa disiplin yang hanya fokus pada analisa komparatif fenomena ethnografik masa kini atau masa lampau; disiplin ilmu ini termasuk linguistik, social antropologi, genetik, dan zoogeography. Cross-cutting merupakan disiplin-disiplin ilmu lainya yang mengambil data langsung dari jejak-jejak kemanusiaan dan aktivitas manusia yang bertahan hidup dari masa lalu. Disiplin ilmu ini termasuk arkeologi, palaeoantropologi, dan sejarah literatur.

Bab ini telah disusun menjadi dua bagian, bagian pertama memusatkan diri pada pertanyaan-pertanyaan tentang asal-muasal dan penyebaran, bagian kedua fokus kepada pertanyaan-pertanyaan tentang interaksi dan perubahan-perubahan yang dialami manusia dan masyarakat Austronesia sejak peristiwa penyebaran terjadi.

Asal-Muasal dan Penyebaran
Tiga bab awal di edisi ini meneliti bukti-bukti linguistic tentang asal-muasal dan penyebaran manusia Austronesia. Tyron memberikan tinjauan tentang keluarga bahasa Austronesia dan memeriksa bukti untuk hipotesis pencabangan kelompok Austronesia dan metodologi yang diterapkan dalam lingustik sejarah-perbandingan. Pawley dan Ross meneliti subgrup besar Oseanik dari Austronesia, yang merupakan setengah dari jumlah seluruh bahasa Austronesia merupakan anggotanya. Mereka memberikan catatan dari sejarah budaya subgrup Oseanik dan membicarakan “penyebaran” unsur-unsur pokok bahasa melalui Melanesia dan melintasi Pasifik, mempertanyakan mengapa beberapa bahasa Oseanik berubah lebih dari bahasa Austronesia lainnya. Laporan Adelaar membicarakan peran penting dari Kalimantan dalam segi asal usul dan penyebaran sesudahnya dari beberapa bahasa utama Austronesia, terutama Malagasi, sub kelompok bahasa Malayic, Tamanic dan bahasa Tanah Dayak.

Tiga bab berikutnya berhubungan dengan catatan arkeologi di masa awal pengusiran manusia Austronesia. Bellwood meneliti pertanyaan tentang wilayah asal dari manusia Austronesia di Cina Selatan dan Taiwan, berdasarkan manusia Austronesia sebagai sebuah populasi seperti banyak grup ethnolinguistik besar lainnya di wilayah garis lintang agrikultur dunia yang memulai ekspansi mereka sebagai hasil adopsi awal dunia agrikultur di dunia pemburu dan pengumpul makanan. Dia melanjutkan penelitiannya dengan mencari alasan-alasan atas kesuksesan dan luasnya akibat dari “penyebaran” (alasan yang lebih dari sekedar pengaruh dalam agrikultur) dan memunculkan beberapa ide tentang beberapa perubahan awal yang terjadi ketika koloni Austronesia pindah ke dalam susunan lingkungan dan kehidupan sosial yang baru.

Bab yang disusun Spriggs meneliti bukti arkeologis bagi pendudukan pulau-pulau Pasifik, terutama pada kebudayaan Lapita yang dimulai sejak 3500 tahun lalu dan membicarakan hubungannya dengan garis leluhur manusia Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia. Manusia Austronesia tentu saja bukan penduduk pertama di Pasifik Barat dan mereka tentu saja tidak menghuni tempat yang merupakan lahan kosong; beberapa hasil dari interaksi berikutnya yang sekarang menjadi sangat penting dalam setiap diskusi asal-muasal dari penduduk dunia Austronesia.

Manusia Austronesia awal sangatlah diuntungkan dengan penguasaan teknologi pelayaran yang baik. Horridge, dalam kontribusinya terhadap edisi ini, meneliti teknologi pelayaran Austronesia ini dan mengidentifikasi fitur utama dari teknologi ini. Dia menyimpulkan bahwa kapal layar Austronesia awal terdiri dari konstruksi lashed-lug of sewn planks on a hollowed-out log base dengan satu kerangka penyeimbang perahu dan layar berbentuk segitiga yang disangga pada sebuah tiang. Sifat alami dari layar ini dan cara kapal layar dikemudikan menjadikan kapal ini semacam kapal cepat bertenaga angin.

Pada bagian terakhir bagian ini tentang asal-muasal dan pengusiran, Groves mendiskusikan nenek moyang dan wilayah asli dari beberapa hewan local Austronesia (lembu, sapi, babi, dan anjing) dan juga beberapa spesies yang menjadi parasit pada mereka. Kecuali untuk lembu Bali dan (mungkin) babi, spesies yang telah disebutkan, berasal dari benua utama Asia. Pertanyaan muncul tentang kapan dan bagaimana mereka ada di masa pre-sejarah Austronesia sebelum 2.000 tahun lalu. Catatan arbeologi untuk spesies yang telah disebutkan, yang sejauh ini bukan merupakan topik utama di wilayah Asia Tenggara, diragukan akan berkontribusi banyak terhadap pengetahuan tentang persebaran manusia Austronesia.

Interaksi Bersejarah dan Perubahan
Bukti linguistik perbandingan dan arkeologi dari sejarah asli dan persebaran masyarakat penutur bahasa Astronesia sangatlah berlimpah. Dalam kesimpulan yang menyebutkan bahwa kebanyakan penelitian di bidang ilmu lainnya telah bergeser pada pertanyaan yang lebih spesifik. Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan perubahan yang muncul sebagai hasil dari penyebaran manusia Austronesia—baik perkembangan internal didalam kebudayaan Austronesia, dan juga pekembangan yang merupakan hasil dari hubungan diantara kelompok-kelompok Austronesia dengan populasi dan kebudayaan lain. Baik dalam biologi, bahasa dan kebudayaan Austronesia, tidak ada satupun diantara mereka yang tetap statis selama 5.000 tahun. Merupakan perkembangan sejarah tentang hal ini yang menjadi tema dokumen pada baian kedua dari edisi ini.

Serjeantson dan Gao, dalam laporan mereka berargumentasi tentang perspektif evolusi yang dengan jelas mengenali perubahan biologis. Mereka memusatkan diri pada kekuatan evolusi yang mempengaruhi perubahan-perubahan dalam susunana genetik dari populasi Oseania. Dimana Polinesia berbagi banyak fitur genetic dengan Pulau-Pulau Asia Tenggara, mereka juga mendapatkan gen mereka dari populasi Melanesia dan telah mengalami evolusi lebih lanjut; kehilangan gen tertentu dalam migrasi mereka ke wilayah Pasifik. Hasil dari proses tersebut adalah daftar genetik yang tentu saja berebeda dengan mereka yang berasal dari manusia Austronesia yang paling awal.

Laporan Searjeantson dan Gao juga menyebutkan pertanyaan kunci tentang manusia Austrionesia awal. Otto Dempwolf yang merupakan salah seorang tokoh penting dalam perkembangan linguistik perbandingan Austronesia, mengabdi untuk sekian lama sebagai dokter di German New Guinea. Pada tahun 1904, setelah mengikuti saran dari dokter kebangsaan Jerman lainnya, Danneil, Dempwolf berspekulasi bahwa malaria mungkin saja mendesak sebuah tekanan selektif yang berarti pada populasi manusia Austronesia awal, sehingga mereka mengembangkan tingkatan imunitas yang memberikan mereka keuntungan di daerah dengan tingkat penyebaran malaria yang tinggi. Dalam argumen ini, pulau dengan tingkat malaria terkecil memberikan jalur paling aman bagi persebaran manusia Austronesia. Berdasarkan penelitian berkelanjutan yang dilaporkan dalam Serjeantson dkk (1992), laporan Serjeantson dan Gao mendukung ide yang diajukan Dempwolff bahwa manusia Austronesia awal mungkin telah tiba di Melanesia untuk menemukan wilayah dengan malaria yang di dihuni oleh orang-orang yang dengan baik beradaptasi terhadap lingkungan dan oleh karena itu akan sangat bijaksana bagi mereka untuk tinggal di pulau kecil dan melanjutkan perjalanan mereka kearah timur.

Laporan oleh Bhatia, Easteal dan Kirk berdasarkan observasi yang sama dalam meneliti perbedaan susunan genetic dari masyarakat penutur Austronesia dan Non-Austronesia (atau Papua) didalam Melanesia. Berdasarkan penelitian terdahulu, Kirk telah menggolongkan tiga pola pembedaan Linguistik dan Genetik berdasarkan kombinasi allele yang unik: 1) sebuah pola Australoid yang berhubungan dengan populasi Aborigin di Australia, 2) pola proto-Papuan yang memiliki frekuensi tertinggi muncul di dataran tinggi Papua Nugini dan dibeberapa bagian Irian Jaya, dengan frekuensi lebih rendah muncul disepanjang pantai Guinea Baru dan Solomons, Kepulaua Banks dan Outliers Polinesia, dan 3) pola Austronesia yang tidak ditemukan di Australia dan jarang muncul di dataran tinggi Papua New Guinea. Frekuensi paling tinggi dari kemunculan pola ini dapat ditemukan dibeberapa area pantai utara dan timur Guinea Baru, Solomons, Kepulauan Banks, Carolines Barat dan Fiji, Bhatia, Eastel. Kirk menunjukan bahwa ketika bahasa dapat menjadi sebuah indikator dari perbedaaan genetik dalam segi geografis yang luas, di Melanesia hal ini bukan merupakan indikator pembeda yang cukup terpercaya dalam beberapa kasus tertentu.

Pesan yang ingin disampaikan Dutton mengarah pada kesimpulan yang sama. Dia meneliti beberapa tipe hubungan-induksi perubahan yang telah diteliti dalam bahasa Austronesia Melanesia dan mendiskusikan masalah yang diajukan oleh sebuah perubahan klasifikasi dari bahasa subgroup Oseanik Austronesia. Hubungan rumit antara penutur bahasa Austronesia dan Non-Austronesia, khususnya di selatan Indonesia dan Melanesia dimana kontak/hubungan semacam itu memiliki sejarah yang panjang, menimbulkan beberapa pertanyaan dasar bagi studi kebudayaan daerah.

Masa lalu mengajukan beberapa pertanyaan dan sekaligus memberikan pertanyaan. Berdasarkan pengetahuan linguistik dan arkeologi ekspansi Austronesia, kontribusi antropologi pada edisi ini mempertimbangkan berbagai macam pertanyaan berkenaan dengan struktur dan distribusi dari komunitas Austronesia kontemporer.

Fox memandang perbedaan masyarakat Austronesia dan perkembangan istilah teknik yang telah digunakan oleh para pengamat untuk menjelaskan komunitas masyarakat ini. Dihadapan bermacam-macam panggilan deskriptif ini, dia memusatkan penelitiannya pada beberapa fitur umum diantara semua masyarakat Austronesia: terkait dengan pencarian jejak dari asal usul lokal dan ketergantungan terhadap bermacam-macam varietas naratif untuk konstruksi masa lalu bersama. Demikian juga dengan berbagi sebuah perjalanan mungkin saja dapat digunakan untuk menjelaskan kedekatan dimana tuntutan terhadap sebuah hak, sering berdasarkan susunan kejadian dalam narasi tertentu, sebuah figure prominently sebagai arti dari definisi perbedaan social.

Laporan ini menganggap dua model formal dari pembedaan social diantara komunitas Austronesia, yang melibatkan sebuah proses “ekspansi lateral”, sebuah kelompok dengan rata-rata status yang sama untuk membentuk kelompok-kelompok baru dan proses “penurunan apikal” diantara bagian-bagian berbeda di masyarakat. Fox menyarankan bahwa dua sistem pembeda tergantung pada dua struktur naratif masa lalu yang berbeda untuk mendasari susunan asal-muasal mereka dan determinasi mereka terhadap sebuah hak. Demikian juga dalam system ekspansi lateral, yang Fox sebut sebagai “spasialisasi waktu” dalam narasi.

Penelitian Sather pada kasus Sama-Bajau, yang merupakan kelompok masyarakat nelayan nomadik mengandung banyak banyak pelajaran. Alih-alih menilik kaum nomadik Sama-Bajau sebagai sebuah populasi yang dapat dibedakan. Dia menganggap semua populasi penutur Sama, baik yang menetap atau yang hidup berpincah-pindah sebagai kelompok masyarakat yang saling terkait dimana bahasa mereka dapat dilacak sampai pada bentuk yang kuno. Rekonstruksi linguistik untuk Sama kuno mengindikasikan sebuah kedekatan dengan kegiatan perkebunan, pembuatan gerabah, menenun dan bahkan pengolahan baja. Walaupun sebagian besar masyarakat lebih berorientasi pada bidang kelautan, penutur bahasa sama masa kini menunjukan angkauan adaptasi dari lautan ke daratan. Kelompok-kelompok ini mencakup petani juga nelayan dan pedagang. Pada kenyataannya, diantara grup yang lebih besar ini, populasi masyarakat perahu nomadic merupakan populasi minoritas yang direpresentasikan pada adaptasi sejarah tertentu untuk memeperluas perdagangan maritim. Sather menyarankan bahwa manusia Austronesia awal seperti populasi Sama awal, memiliki bermacam-macam sistem ekonomi berdasarkan kegiatan mengumpulkan makanan dan perkebunan, berburu dan holtikultura yang mengarah pada adaptasi lokal yang berbeda.

Thomas juga mengembangkan sebuah set dari model yang saling berlawanan untuk menentukan pola-pola pertukaran di Oseania. Satu bentuk pertukaran yang melibatkan “pertukaran mana-suka” yang menekankan pada jumlah dari barang-barang yang dipertukarkan, terutama pertukaran makanan yang kompetitif diantara kelompok lokal yang sama; bentuk lain dari pertukaran yang melibatkan nilai-nilai berbeda diantara kelompok berbeda dalam suatu wilayah luas yang memiliki sistem hirearki.

Thomas menggambarkan cara kerja dari model kelompok itu baik dari segi sejarah maupun wilayah di Oseania. Laporan penutup dari edisi ini meneliti cara masyarakat Austronesia beradaptasi pada pengaruh luar, terutama pengaruh dari agama-agama dunia—yang pertama, Hindu dan Budha, kemudian agama Islam dan Kristen. Supomo melihat kontak paling awal masyarakat Indonesia dengan India dan perubahan organisasi keagamaan dan politik yang dibawa oleh pengaruh luar, terutama penyebaran karya sastra yang menyebabkan adaptasi lokal dan penggubahan karya sastra India seperti Mahabharata dan Ramayana.

Prasasti yang tertulis dalam bahasa Sansekerta membuka jalan bagi sejumlah prasasti dalam bahasa Melayu kuno selama masa Sriwijaya (akhir abad ke-7 AD) dan perkembangan prasasti-prasasti dalam bahasa Jawa kuno yang bertahan selama enam abad mulai dari 804AD. Prasasti-prasasti tersebut merupakan contoh tetua dari bahasa Austronesia. Prasasti Jawa dan karya sastra di kemudian hari, yang Supomo sebut sebagai “kuil bahasa”, menawarkan sepintas gambaran tentang kehidupan sosial yang termasuk kedalam kategori Austronesia.

Supomo menyeadari bahwa prasasti Jawa kuno merujuk pada kemunitas asli sebagai wanua (PMP*banua) dan penduduknya sebagai anak wanua. Sebuah dewan yang mengatur komunitas ini terdiri dari para tetua yang disebut rama (PAn*ama yang berarti ayah). Wanua dikelompokkan dalam sebuah kesatuan wilayah yang disebut watak dan watak ini dikepalai oleh rakai, susunan ini merupakan sebuah rancangan yang Supomo kemukakan berasal dari istilah utuk tetua atau kakek (Pan*aki). Sistem politik Jawa awal ini dikepalai oleh seorang figur yang diberi gelar ratu (PMP*datu yag berarti leluhur, ketua,tuan penguasa).

Sistem tersebut memanfaatkan sebuah idiom kekeluargaan yang berhubungan dengan Austronesia kuno dan Jawa klasik. Berdasarkan bukti yang berasal dari teks Jawa kuno, Fox telah menunjukkan sistem kekeluargaan awal masyarakat Jawa sepenuhnya merupakan susunan Austronesia dengan sedikit pengaruh Sansekerta. Tentu saja struktur semantik dari sistem kekeluargaan Jawa modern memberikan bukti dari keberlangsungan dan perkembangan system Jawa kuno (Fox 1986). Seperti yang Supomo usulkan, kita harus meneliti Bali lebih jauh daripada Jawa untuk mendapatkan contoh keberlangsungan tradisi Jawa kuno karena “kuil bahasa” yang ia katakan diadaptasi setelah kedatangan agama Islam. Sampai sekarang komunitas lokal di dataran tinggi Bali disusun dalam sebuah sistem yang disebut banua dan dipimpin oleh dewan desa (Reuter, pers.comm.1994).

Reid juga meneliti keberlangsungan dan perubahan yang muncul sebagai reaksi terhadap pengaruh politik dan kepercayaan luar—kedatangan Islam dan kemudian Kristen di populasi maritim Asia Tenggara mulai abad ke-15. Populasi ini mencakup Malayu, Jawa, Chams dan Tagalog (“Luzon”) yang memiliki hubungan satu sama lain dan dengan populasi pedalaman. Agama-agama baru membawa perubahan drastis dalam identitas populasi—pakaian, pembicaraan, tingkah laku, pola makan—dan juga dalam pendewasaan moral seksual, dalam peranan ritual wanita dan hubungannya dengan hal-hal yang suci, termasuk sikap terhadap dunia roh dan mereka yang mati.

Yengoya dalam dalam laporannya meneliti bermacam-macam pengaruh dan bagaimana agama Kristen mengubah kebudayaan Pilipina dan Pasifik. Dalam perubahan masyarakat Austronesia, kombinasi antara kolonialisme barat dan Kristen memberikan sebuah konsep individualisme yang menekankan pada peranan dan kewajiban seseorang dalam semua hubungan sosial. Konsep ini terus berjalan menyebarkan pengaruhnya pada masyarakat Austronesia.

Laporan yang dipublikasikan disini dipresentasikan pada konferensi selama tiga hari yang berjudul “Manusia Austronesia dalam Sejarah: Asal-Muasal Umum dan Bermacam-Macam Perubahan”, diadakan di Coombs Lecture Theatre di Australian National University pada bulan November 1990. Konferensi ini diadakan dibawah Comparative Austronesian Project in the Research School of Pasifik Studies di ANU. Selaras dengan tujuan dari proyek tersebut, laporan ini diminta untuk memiliki skala yang lebih luas—memiliki orientasi komparatif, interdisipliner, dan sejarah. Hasil laporan ini menyediakan data bagi survey dari beberapa permasalahan penting Austronesian.

Kepustakaan
Allen, J. and P. White. 1989. The Lapita homeland: some new data and an interpretation. Journal of the Polynesian Society 98:129-146.
Bellwood, P. 1994. The archaeology of Papuan and Austronesian prehistory in the Northern Moluccas, Eastern Indonesia. Paper given at the World Archaeological Congress, New Delhi, 4-11 December.
Blust, R.A. 1984. Indonesia as a “field of linguistic study”. In P.E. de Josselin de Jong (ed.) Unity in diversity: Indonesia as a field of anthropological study, pp.21-37. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde 103. Dordrecht: Foris Publications.
Dempwolff, Otto. 1904. Über aussterbende Völker. Die Eingeborenen der “Westlichen Inseln” in Deutsch-Neu-Guinea. Zeitschrift für Ethnologie 36:414.
Dempwolff, Otto. 1934-38 Vergleichende Lautlehre des austronesischen Wortschatzes. 3 vols. Berlin: Reimer.
Eggan, Fred. 1954. Social anthropology in the method of controlled comparison. American Anthropologist 56:743-763.
Ehret, C. and M. Posnansky (eds).1982. The archaeological and linguistic reconstruction of African history. Berkeley: University of California Press.
Flannery, K.V. and J. Marcus (eds).1983. The cloud people. New York: Academic Press.
Fox, J.J. 1980. Models and metaphors: comparative research in Eastern Indonesia. In J.J. Fox (ed.) The flow of life: essays on Eastern Indonesia, pp.327-333. Cambridge, Mass.: Harvard University Press.
Fox, J.J. 1986 The ordering of generations: change and continuity in old Javanese kinship. In D.G. Marr and A.C. Milner (eds) Southeast Asia in the 9th to 14th centuries, pp.315-326. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies and Canberra: Research School of Pacific Studies, The Australian National University.
Fox, J.J. 1988 Review of P.E. de Josselin de Jong (ed.) Unity in diversity: Indonesia as a field of anthropological study. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde 144(1):178-181. Dordrecht: Foris Publications.
Goldman, I. 1970. Ancient Polynesian society. Chicago: University of Chicago Press.
Goodenough, Ward H.1955. A problem of Malayo-Polynesian social organization. American Anthropologist 57:71-83.
Houghton, P.1991. The early human biology of the Pacific: some considerations. Journal of the Polynesian Society 100:167-196.
Josselin de Jong, J.P.B. de. 1977. The Malay Archipelago as a field of ethnological study. In P.E. de Josselin de Jong (ed.) Structural anthropology in the Netherlands: a reader, pp.164-182. The Hague: Martinus Nijhoff. (Originally published in 1935 as “De Maleische Archipel als ethnologisch studieveld”. Leiden: Ginsberg.)
Josselin de Jong, P.E. de. 1980. The concept of the field of ethnological study. In J.J. Fox (ed.) The flow of life: essays on Eastern Indonesia, pp.317-326. Cambridge, Mass.: Harvard University Press.
Josselin de Jong, P.E. de. 1984 A field of anthropological study in transformation. In P.E. de Josselin de Jong (ed.) Unity in diversity: Indonesia as a field of anthropological study, pp.1-10. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde 103. Dordrecht: Foris Publications.
Kirch, P.V. and R.C. Green. 1987 History, phylogeny and evolution in Polynesia. Current Anthropology 28:431-456.
Mallory, J.P. 1989 In search of the Indo-Europeans. London: Thames and Hudson.
Markey, T.L. and J.A.C. Greppin (eds).1990. When worlds collide. Ann Arbor: Karoma.
Moore, J.H. 1994. Putting anthropology back together again: the ethnogenetic critique of cladistic theory. American Anthropologist 96(4).
Morgan, Lewis Henry. 1870. Systems of consanguinity and affinity of the human family. Smithsonian Contributions to Knowledge 218. Photomechanic reprint after the edition of 1871. Washington: Smithsonian Institution.
Peoples, J.G. 1993 Political evolution in Micronesia. Ethnology 32:1-18.
Platenkamp, J.D.M. 1984. The Tobelo of Eastern Halmahera in the context of the field of anthropological study. In P.E. de Josselin de Jong (ed.) Unity in diversity: Indonesia as a field of anthropological study, pp.167-189. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde 103. Dordrecht: Foris Publications.
Radcliffe-Brown, A.R. 1931. The social organization of Australian tribes. Oceania 1:34-63, 206-246, 322-341, 426-456.
Renfrew, C.1987. Archaeology and language. London: Jonathan Cape.
Rivers, W.H.R. 1914 The history of Melanesian society. Cambridge: The University Press.
Romney, A.K.1957. The genetic model and Uto-Aztecan time perspective. Davidson Journal of Anthropology 3:35-41.
Sahlins, M.D. 1958. Social stratification in Polynesia. Seattle: University of Washington Press.
Sahlins, M.D. 1981 Historical metaphors and mythical realities: structure in the early history of the Sandwich Islands kingdom. Association for the Study of Anthropology in Oceania, Special Publication No. 1. Ann Arbor: University of Michigan Press.
Sahlins, M.D. 1985 Islands of history. Chicago: University of Chicago Press.
Serjeantson, S.W., P.G. Board and K.K. Bhatia
Sahlins, M.D. 1992 Population genetics in Papua New Guinea: a perspective on human evolution. In R.D. Attenborough and M.P. Alpers (eds) Human biology in Papua New Guinea: the small cosmos, pp.198-233. Oxford: Clarendon Press.
Terrell, J.1981. Linguistics and the peopling of the Pacific Islands. Journal of the Polynesian Society 90:225-258.
Terrell, J.1986 Prehistory in the Pacific Islands. Cambridge: Cambridge University Press.
Wouden, F.A.E. van. 1968. Types of social structure in Eastern Indonesia. The Hague: Martinus Nijhoff. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Translation Series 11. [Originally published in Dutch in 1935.]

Islam Nusantara

Sejarah Islam Nusantara saat ini sangat susah mendapatkan bukti otentik bahwa benar adanya bahwa Nusantara adalah wilayah ke Khalifahan Islam. Sangat susah menemukan buku-buku sejarah mengungkap hal ini seolah-olah sengaja menghilangkan fakta ini. Tapi sejarah yang benar pasti akan terungkap. Berikut bukti otentik yang dapat membuktikan hal tersebut. Bukti ini berupa surat resmi dari sultan Aceh Alauddin Mahmud Syah kepada Khalifah Abdul Aziz dari ke-khalifahan Turki Usmani, berikut isi suratnya;

“Sesuai dengan ketentuan adat istiadat kesultanan Aceh yang kami miliki dengan batas-batasnya yang dikenal dan sudah dipunyai oleh moyang kami sejak zaman dahulu serta sudah mewarisi singgasana dari ayah kepada anak dalam keadaan merdeka. Sesudah itu kami diharuskan memperoleh perlindungan Sultan Salim si penakluk dan tunduk kepada pemerintahan Ottoman dan sejak itu kami tetap berada di bawah pemerintahan Yang Mulia dan selalu bernaung di bawah bantuan kemuliaan Yang Mulia almarhum sultan Abdul Majid penguasa kita yang agung, sudah menganugerahkan kepada almarhum moyang kami sultan Alaudddin Mansursyah titah yang agung berisi perintah kekuasaan.

Kami juga mengakui bahwa penguasa Turki yang Agung merupakan penguasa dari semua penguasa Islam dan Turki merupakan penguasa tunggal dan tertinggi bagi bangsa-bangsa yang beragama Islam. Selain kepada Allah SWT, penguasa Turki adalah tempat kami menaruh kepercayaan dan hanya Yang Mulialah penolong kami. Hanya kepada Yang Mulia dan kerajaan Yang Mulialah kami meminta pertolongan rahmat Ilahi, Turkilah tongkat lambang kekuasaan kemenangan Islam untuk hidup kembali dan akhirnya hanya dengan perantaraan Yang Mulialah terdapat keyakinan hidup kembali di seluruh negeri-negeri tempat berkembangnya agama Islam. Tambahan pula kepatuhan kami kepada pemerintahan Ottoman dibuktikan dengan kenyataan, bahwa kami selalu bekerja melaksanakan perintah Yang Mulia. Bendera negeri kami, Bulan Sabit terus bersinar dan tidak serupa dengan bendera manapun dalam kekuasaan pemerintahan Ottoman; ia berkibar melindungi kami di laut dan di darat. Walaupun jarak kita berjauhan dan terdapat kesukaran perhubungan antara negeri kita namun hati kami tetap dekat sehingga kami telah menyetujui untuk mengutus seorang utusan khusus kepada Yang Mulia, yaitu Habib Abdurrahman el Zahir dan kami telah memberitahukan kepada beliau semua rencana dan keinginan kami untuk selamanya menjadi warga Yang Mulia, menjadi milik Yang Mulia dan akan menyampaikan ke seluruh negeri semua peraturan Yang Mulai.

Semoga Yang Mulai dapat mengatur segala sesuatunya sesuai dengan keinginan Yang Mulia. Selain itu kami berjanji akan menyesuaikan diri dengan keinginan siapa saja Yang Mulia utus untuk memerintah kami.

Kami memberi kuasa penuh kepada Habib Abdurrahman untuk bertindak untuk dan atas nama kami.

Yang Mulia dapat bermusyawarah dengan beliau karena kami telah mempercayakan usaha perlindungan demi kepentingan kita.

Semoga harapan kami itu tercapai. Kami yakin, bahwa Pemerintah Yang Mulia Sesungguhnya dapat melaksanakannya dan kami sendiri yakin pula,bahwa Yang Mulia akan selalu bermurah hati”.

Petikan isi surat tersebut dikutip dari Seri Informasi Aceh th.VI No.5 berjudul Surat-surat Lepas Yang Berhubungan Dengan Politik Luar Negeri Kesultanan Aceh Menjelang Perang Belanda di Aceh diterbitkan oleh Pusat Dokumentasi Dan Informasi Aceh tahun 1982 berdasarkan buku referensi dari A. Reid, ”Indonesian Diplomacy a Documentary Study of Atjehnese Foreign Policy in The Reign of Sultan Mahmud 1870-1874”, JMBRAS, vol.42, Pt.1, No.215, hal 80-81 (Terjemahan : R. Azwad).

Poin-poin penting isi surat diatas sebagai berikut :

* Wilayah Aceh secara resmi menjadi bagian dari ke-Khalifahan Usmani sejak pemerintahan Sultan Salim (Khalifah Turki Usmani yang sangat ditakuti dan disegani sehingga digelas ”sang Penakluk” oleh Eropah abad 15 M.
* Pengakuan penguasa semua negeri-negeri kaum Muslimin bahwa Turki Usmani adalah penguasa tunggal dunia Islam.
* Adanya perlindungan dan bantuan militer dari Turki Usmani terhadap Aceh di laut dan di darat. Hal ini wajar karena fungsi Khalifah adalah laksana perisai pelindung ummat di setiap wilayah Islam.
* Hukum yang berlaku di Aceh adalah hukum yang sama dilaksanakan di Turki Usmani yaitu hukum Islam.

Dari isi surat dapat disimpulkan bahwa kesultanan Aceh di Sumatera adalah bagian resmi wilayah kekuasaan ke khalifahan Islam Turki Usmani tidak terbantahkan lagi. Hal sama juga berlaku untuk daerah-daerah lain di Nusantara dimana kesultanan Islam berdiri.

Janji Allah SWT akan datangnya nubuah berdirinya ke-Khalifahan jilid 2 yang sesuai dengan manhaj kenabian adalah pasti, dan Nusantara dahulu adalah bagian resmi ke-Khalifahan Islam maka sudah sewajarnya dan seharusnya kita ummat Islam di Nusantara menyongsong hal tersebut. Ibarat kita mencari sesuatu yang hilang dan susah di cari jejaknya, kini sudah terkuak satu demi satu untuk semakin meyakinkan bahwa dakwah untuk tegaknya syariah dalam bingkai khilafah adalah suatu kenyataan dan kebenaran mutlak yang harus diyakini. Sambutlah Khilafah. Sambulah Khilafah.( A. Yusuf Pulungan, ST, MSc)

Sumber: hizbut-tahrir.or.id

Kesultanan Barus

Kesultanan Barus merupakan kelanjutan kerajaan di Barus paska masuknya Islam ke Barus. Islam masuk ke Barus pada awal-awal munculnya agama Islam di semenanjung Arab.

Dalam sebuah penggalian arkeologi, ditemukan Makam Mahligai sebuah perkuburan bersejarah Syeh Rukunuddin dan Syeh Usuluddin yang menandakan masuknya agama Islam pertama ke Indonesia pada Abad ke VII Masehi di Kecamatan Barus.

Kuburan ini panjangnya kira-kira 7 meter dihiasi oleh beberapa batu nisan yang khas dan unik dengan bertulisan bahasa Arab, Tarikh 48 H dan Makam Mahligai merupakan Objek Wisata Religius bagi umat Islam se-Dunia yang Letaknya 75 Km dari Sibolga dan 359 Km dari Kota Medan.

Raja pertama yang menjadi muslim adalah Raja Kadir yang kemudian diteruskan kepada anak-anaknya yang kemudian bergelar Sultan.

Raja Kadir merupakan penerus kerajaan yang telah turun-temurun memerintah Barus dan merupakan keturunan Raja Alang Pardosi, pertama sekali mendirikan pusat Kerajaaannya di Toddang (tundang), Tukka, Pakkat - juga dikenal sebagai negeri Rambe, yang bermigrasi dari Balige dari marga Pohan.

Pada abad ke-6, telah berdiri sebuah otoritas baru di Barus yang didirikan oleh Sultan Ibrahimsyah yang datang dari Tarusan, Minang, keturunan Batak dari kumpulan marga Pasaribu, yang akhirnya membentuk Dulisme kepemimpinan di Barus.
[sunting] Silsilah

1. Raja Kesaktian (di Toba)
2. Alang Pardosi pindah ke Rambe dan mendirikan istana di Gotting, Tukka
3. Pucaro Duan Pardosi di Tukka
4. Guru Marsakot Pardosi di Lobu Tua
5. Raja Tutung Pardosi di Tukka
6. Tuan Namora Raja Pardosi

 Ada gap yang lama, raja-raja difase ini tidak terdokumentasi

1. Raja Tua Pardosi
2. Raja Kadir Pardosi (Pertama masuk Islam)
3. Raja Mualif Pardosi
4. Sultan Marah Pangsu Pardosi (700-an Hijriyah)
5. Sultan Marah Sifat Pardosi
6. Tuanku Maraja Bongsu Pardosi (1054 H)
7. Tuanku Raja Kecil Pardosi
8. Sultan Daeng Pardosi
9. Sultan Marah Tulang Pardosi
10. Sultan Munawar Syah Pardosi
11. Sultan Marah Pangkat Pardosi (1170 H)
12. Sultan Baginda Raja Adil Pardosi (1213 H)
13. Sultan Sailan Pardosi (1241 H )
14. Sultan Limba Tua Pardosi
15. Sultan Ma’in Intan Pardosi
16. Sultan Agama yang bernama Sultan Subum Pardosi
17. Sultan Marah Tulang yang bernama Sultan Nangu Pardosi (1270 H)

______Pada abad ke-6otoritas baru di Barus oleh Sultan Ibrahimsyah membentuk Duliasme kepemimpinan di Barus.

1. Sultan Ibrahimsyah
2. Sultan Abidinnsyah Pasaribu
3. Sultan Buchari Muslim Pasaribu

[sunting] Istana

Istana Kesultanan Dinasti Pardosi/Pohan terletak di pinggir jalan yang melintasi dataran rendah melalui Kampung Barus Mudik. Istananya dari kayu disebut Gedung Putih, sekarang istana tersebut sudah hilang terbawa arus deras sungai pada waktu terjadi banjir besar. Masih terlihat sisa-sisa benteng tanah di tiga sisi kampungnya atau dahulu merupakan ibu kota Dinasti Kesultanan tersebut.
[sunting] Referensi

* Naskah Jawi yang dialihtuliskan dan dipetik dari kumpulan naskah Barus dan dijilidkan lalu disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan no. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Bar
* A Malay Frontier: Unity and Duality in a Sumatran Kingdom(Cornell Southeast Asia Project, 1990)
* Sejarah Raja-Raja Barus (Ecole Franéaise d'Extréme-Orient, 1988)
* A Kingdom of Words: Language and Power in Sumatra (Oxford University Press, 1999)

[sunting]

Perumahan Elit Kuno Kerajaan Singosari Ditemukan

Perumahan Elit Kuno Kerajaan Singosari Ditemukan

Kamis, 30 Juli 2009 07:00

Malang, Detik.com - Pusat Penelitian Dan Pengembangan (Puslitbang) Balai Arkeologi Nasional menemukan perumahan elite kuno zaman Kerajaan Singosari. Kini tim masih melakukan pemetaan terhadap temuan yang berada di Dusun Bungkuk, Desa Pagentan, Kecamatan Singosari, Malang.

Proses penggalian sendiri dilakukan sejak 22 Juli 2009 tepatnya di arah timur barat Kompleks Candi Singosari. Dari dua titik penggalian ditemukan sejumlah barang peninggalan abad 10 -13 masehi Dinasti Shung.

Diantaranya, uang kepeng dari perunggu, serpihan tembikar, guci, wowong atau atap rumah, teko, keramik porselen, gacuk, mangkok, cepuk mirip wadah bedak, cucuk atau kendi yang semuanya peninggalan zaman Dinasti Shung abad 10 - 13.

Menurut Ketua Tim Puslitbang Balai Arkeologi Nasional Amelia mengatakan, berdasarkan temuan ini dapat disimpulkan bahwa daerah atau kawasan ini merupakan kompleks atau perumahan elit pada zaman Kerajaan Singosari pada abad 10 sampai masehi.

"Barang-barang yang kita temukan ini hanya dimiliki oleh masyarakat dari kalangan atas atau elite. Bukan milik dari masyarakat biasa," ujarnya saat ditemui di lokasi, Kamis (30/7/2009).

Dalam ekskavasi melibatkan delapan orang ini tim melakukan penggalian di atas lahan seluas empat meter dengan kedalaman satu meter. Mereka juga membersihkan lumpur dan kotoran pada benda kuno yang ditemukan setelah penggalian (eskavasi) situs permukiman zaman Kerajaan Singosari. Struktur batu bata juga kembali ditemukan merupakan kompleks hunian masyarakat. Sebelumnya, ekskavasi telah dilakukan tahun 2002 di lokasi yang sama.

Sementara informasi yang dihimpun, dalam penggalian itu tim peneliti menemukan benda kuno di kompleks tersebut berupa berupa batu ambang pintu, umpak, batu candi, dan arca dari batu andesit di kedalaman 3 meter. Saat itu juga ditemukan batu bata berukuran 20 x 30 x 6 cm.

"Semua temuan telah kita lakukan pendataan dan membersihkan. Agar kita mudah dalam meneliti barang-barang tersebut," imbuh Amelia.

"Rumah kalangan menengah ke bawah terbuat dari gedhek (anyaman bambu)," kata Ketua tim peneliti permukiman kuno zaman Kerajaan Singosari.

Sampai kini peneliti belum berhasil menemukan lokasi istana kerajaan Singosari, karena penelitian tentang permukiman kuno belum dilakukan maksimal.

"Setelah kita menemukan permukiman kuno, baru kita dapat menemukan dimana letak istana kerajaan," ungkap Amelia.

Amelia menambahkan, dalam ekskavasi di Bungku ini, juga ditemukan lempengan batu adesit dan batu bata berukuran besar yang berserakan di halaman rumah-rumah warga.

Batu Adesit ini merupakan bekas reruntuhan 8 candi di sekitar Candi Singosari. Sedangkan batu bata ukuran 60 x 40 centimeter merupakan pondasi permukiman kuno.

Sementara untuk membedakan batu batu besar itu dibutuhkan uji laboratorium untuk mengetahui arang sekam yang melekat di batu bata. Agar diketahui jaman pada masa batu bata itu digunakan

Minggu, 07 Maret 2010

Bangsaku, Kembalilah Kepada Islam

Bangsaku, Kembalilah Kepada Islam

Sejak akhir 1997, Indonesia dilanda krisis ekonomi dan politik yang parah. Hanya dalam tempo kurang dari satu tahun nilai rupiah terhadap dollar jatuh hingga 5 sampai 6 kali lipat. Jika kemarin Indonesia sanggup membayar utang luar negeri dalam waktu 20 tahun, berarti sekarang utang itu baru bisa dilunasi seratus tahun lagi! Dua atau tiga generasi mendatang utang itu belum akan terlunasi. Betapa sengsaranya nasib bangsa Indonesia. Dalam kondisi tertekan seperti ini, kebijakan para pemimpin negara berkembang seringkali bersifat pragmatis, yaitu memilih yang paling menguntungkan dirinya sendiri. Akhirnya mereka membebek saja terhadap semua kehendak dan kemauan barat. Hanya sedikit pemimpin yang memiliki karakter, jiwa besar, dan semangat tinggi untuk membawa bangsanya ke arah kemajuan yang tidak berorientasi ke Timur maupun ke Barat. Ia mampu menggelorakan semangat kembali kepada nilai-nilai dasar yang paling asasi, yaitu agama yang dianut dan dipeluknya selama ini.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyatakan bahwa secara psikologis terdapat kecenderungan negara terbelakang meniru apa saja yang datang dari negara yang dianggapnya lebih maju. Dalam konteks sekarang, karena yang dianggap negara maju adalah barat, maka apa saja yang datang dari barat mesti ditiru dan dijadikan model. Dalam perpolitikan misalnya, maka sistem politik yang paling dianggap ideal sekarang ini adalah yang datang dari barat. Akhirnya liberalisme, yang memberi porsi sangat besar kepada individu, menjadi model bagi semua negara berkembang. 'Kebebasan' dalam arti serba-boleh menjadi bagian terpenting dari trend tuntutan mereka di banyak negara, tak terkecuali di Indonesia. Begitu juga dalam urusan ekonomi. Liberalisme ekonomi seakan menjadi satu-satunya pilihan, sekalipun negara-negara berkembang kini telah dihajar habis-habisan oleh barat. Bertahun-tahun Indonesia membangun negaranya dengan pengorbanan rakyat yang luar biasa besarnya, tapi hasil pembangunan itu bisa dimusnahkan dalam waktu sekejap saja. Betapa mudahnya barat menghancurkan perekonomian suatu negara. Krisis yang terjadi di Indonesia, selain karena kesalahan dari dalam, tidak lepas dari rekayasa mereka. Tapi dasar nasib negara-negara berkembang yang secara psikologis memiliki mental rendah, maka jiwa budaknya selalu tampil membela tuannya. Biarpun sepatu tuannya sudah menempel di pipinya, mereka masih bertanya, 'apakah sepatu tuan bisa kami bersihkan ?'

Indonesia harus berani bersikap tegas dalam urusan ini. Jangan sampai latah mengikuti barat secara membabi-buta. Yang perlu disadari bahwa peradaban barat itu bukan peradaban dunia. Sejarah barat bukanlah sejarah dunia. Pola pikir dan ideologi barat bukan sumber inspirasi dalam menciptakan kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Barat mempunyai ideologi, Islam juga punya. Barat memiliki pola pikir dan pola sikap, Islam juga memilikinya. Sikap bangsa Indonesia dalam hal ini seharusnya : Biarkanlah barat hancur dengan ideologinya, sementara kita membangun peradaban dunia dengan nilai-nilai Islam saja. Dengan sikap yang tegas ini, tentu saja Barat tidak suka. Mereka akan berbuat macam-macam untuk membungkam mulut dan mematahkan langkah penentangnya. Mereka akan selalu berusaha membuat citra Indonesia buruk, lalu akan mengisolasi, menjatuhkan sanksi berupa embargo ekonomi, sampai kepada memboikot secara penuh. Mereka juga masih bisa menempuh jalur lebih keras, yakni kekuatan militer, yang tentu saja bisa menghancur-lumatkan sebuah negara berkembang.

Mereka kini telah menguasai hampir seluruh sumber daya yang ada. Ekonomi mereka kuasai secara penuh, informasi ada dalam genggamannya, politik ada di tangannya, demikian juga kekuatan militer. Siapa yang tidak 'keder' menghadapi mereka? Yang diperlukan sekarang ini adalah sosok pemimpin yang memiliki kepribadian utuh dan karakter yang kuat untuk membawa bangsa Indonesia keluar dari krisis tanpa harus membebek kepada barat. Indonesia butuh pemimpin sejenis Ayatullah Khomeini, yang berhasil mengenyahkan dominasi barat dan segenap penguasa-penguasa bonekanya. Indonesia membutuhkan pemimpin sekuat Saddam Hussein, yang mampu bertahan dari berbagai serbuan dan serangan barat, juga membutuhkan orang sejenis Fidel Castro, dan orang-orang yang berkarakter lainnya. Tentu saja bukan dalam arti Khomeini, Sadddam, dan Castro yang otoriter atau diktator, melainkan yang dibutuhkan adalah karakternya yang kuat dan kepribadiannya yang utuh agar bangsa ini menemukan kembali jati dirinya.

Jati diri bangsa Indonesia adalah Islam. Ini yang harus benar-benar dipahami oleh semua unsur bangsa. Sejak Sumpah Pemuda 1928, para pelopor bangsa telah berikrar bahwa bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia. Yang dimaksud di sini adalah Bahasa Melayu, yang notabene adalah simbol dari bahasa ummat Islam. Meski Sumpah Pemuda itu sendiri diikrarkan di tanah Jawa, mengapa mereka tidak menggunakan bahasa Jawa? Karena bahasa Jawa lebih banyak dipengaruhi unsur budaya Hindu, yang mengurangi persamaan derajat, sementara Bahasa Melayu lebih dipengaruhi unsur budaya Islam yang terbuka dan cenderung tidak membeda-bedakan. Karenanya, jika ummat Islam Indonesia kembali kepada Islam, pada dasarnya berarti telah kembali kepada asal yang sejati. Lihatlah perbendaharaan kata atau istilah yang dipakai untuk menamai lembaga-lembaga tertinggi dan tinggi negara. Di sana ada Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Mahkamah Agung, dan sebagainya. Semuanya menggambarkan nilai dan budaya Islam, karena majlis, diwan, maupun mahkamah memang merupakan bahasa Islam.

Kenapa setelah merdeka justru Indonesia berbelok arah, menghadapkan wajah ke barat dan ke timur? Kenapa tidak kembali ke Islam saja? "Kebajikan itu bukannya kamu menghadapkan wajah ke barat atau ke timur, tetapi al-birr itu siapa yang beriman kepada Allah, kepada hari akhir, kepada malaikat-Nya, dan kepada nabi-nabi..." (QS al-Baqarah: 177). Setelah lima puluh tahun merdeka, ternyata bangsa Indonesia masih harus terus-menerus melakukan coba-coba dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Masih tengok kanan tengok kiri mencari alternatif terbaik untuk membawa bangsa ini menuju cita-cita bersama. Dua pemimpin terdahulu bangsa Indonesia, Soekarno dan Soeharto, sama saja. Soekarno menengok ke timur (RRC) yang komunis, Soeharto ke barat.

Yang lebih parah lagi, kehidupan beragama menjadi begitu tertekan. Agama telah disejajarkan dengan nasionalisme dan komunisme. Lahirnya faham Nasakom (Nasionalisme, Agama dan Komunisme) pada jaman Soekarno menjadikan kehidupan beragama meredup, bagai lentera yang kehabisan sumbu. Akhir dari episode itu adalah tumbangnya rezim Soekarno. Kemarahan rakyat tidak lagi bisa dibendung. Mereka menuntut agar Soekarno diadili di meja hijau dan semua harta kekayaannya dibekukan. Akhirnya Soekarno meninggal dunia semasa dalam tahanan atau isolasi, sebelum proses pengadilan itu sendiri berlangsung. Hal yang hampir sama terjadi pada saat ini, di mana Soeharto telah dipaksa mundur dan kekayaannya diusut. Hanya saja Soeharto masih hidup, dan tidak dalam tahanan. Antara Soekarno dan Soeharto mempunyai kesamaan nasib. Keduanya sama-sama diturunkan rakyat dari kursi kepresidenannya. Bedanya, Soekarno turun karena suatu 'revolusi', sedangkan Soeharto turun karena 'reformasi'.

Yang patut disesalkan, kenapa pada waktu revolusi dahulu, ketika terjadi pergantian pemimpin negara dari Soekarno ke Soeharto tidak terjadi revolusi ideologi. Sebab ideologi itu sendiri patut dipertanyakan bila pencetusnya sudah melanggar atau melenceng dari padanya, dan bahkan ingin mengubahnya. Hasil perenungannya itu bisa saja salah, karena manusia memang tidak lepas dari kesalahan. Tampilnya Soeharto ternyata mengulangi kesalahan yang sama. Ia tetap akan membungkus ideologi dunia yang lain dengan ideologi lokal hasil perenungan orang yang telah dinyatakan melenceng tersebut. Malah ternyata Soeharto bertindak lebih keras dan kejam lagi. Ada pemaksanaan secara sistematis untuk menjadikan ideologi itu sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk berorganisasi dan melakukan apa saja. Lahirlah P4 untuk masyarakat umum, dan pelajaran PMP untuk para pelajar di sekolah. Hal ini merupakan pemaksaan yang sangat sistematis dan rapi. Entah berapa biaya dan tenaga yang telah diboroskan untuk proyek besar yang mubazir ini, sampai-sampai ada biro khusus, malah terakhir ada menteri khusus untuk menanganinya. Asas tunggal yang dipaksakan ini telah membawa korban yang sangat besar dari ummat Islam.

Timbullah berbagai penolakan yang ujung-ujungnya adalah peristiwa tragis di Tanjung Priok, Jakarta. Beberapa organisasi Islam yang besar ikut-ikutan pecah. Demikian pula tokoh-tokoh ummat. Ada yang menerima, ada sebagian menolak. Mereka yang tidak menerima akan dicap ekstrem, fundamentalis, yang karenanya berhak dimusnahkan dari negara republik ini. Ada yang mereka lupakan, bahwa negara ini bukan milik seseorang. Negara ini tidak diwariskan dari nenek moyang mereka. Negara ini adalah bagian dari buminya Allah. Allah-lah yang paling berhak menempatkan seseorang di bagian bumi mana pun, di perut perempuan mana pun ia dikandung. Allah yang mempunyai hak penuh tentang hal ini. Oleh karenanya, Dia-lah yang mestinya ditanya, apakah orang-orang yang tidak menerima ideologi tertentu itu tidak berhak hidup di bumi-Nya? Jika tidak berhak, kirim saja ke neraka. Jika berhak, kenapa harus dikejar-kejar, dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh? Ini suatu kezhaliman yang di luar batas kemanusiaaan. Orang-orang yang menolak semua ideologi buatan manusia, dan hanya mau menerima ajaran Alllah swt adalah orang yang paling berhak hidup di bumi, dan tentu saja yang paling berhak hidup di negeri ini. Merekalah orang-orang shalih yang kehadirannya ke dunia berperan untuk memakmurkan bumi, mensejahterakan alam, dan menegakkan sistem keadilan. Mereka berpihak kepada Allah, kepada hukum-Nya, dan kepada sistem kehidupan yang telah diciptakan-Nya.

Selama ini dikesankan bila orang mendasarkan perjuangannya kepada agama dicap sebagai SARA, sementara yang mendasarkan perjuangannya pada ideologi nasionalisme dianggap pejuang. Ini merupakan sikap yang sangat diskriminatif. Rupanya hal ini merupakan strategi rezim lama untuk meminggirkan peran ummat Islam di gelanggang nasional. Sekarang, apa hasilnya setelah Soeharto memaksakan kehendaknya dengan keharusan semua pihak untuk menerima asas tunggal? Dapatkah dengan pemaksaan seperti ini menjamin terpeliharanya integrasi nasional? Buktinya masalah Priok, Lampung dan Aceh masih belum selesai. Buktinya sampai sekarang masalah Timor Timur belum tuntas. Buktinya telah terjadi berbagai kerusuhan-kerusahan yang susul-menyusul di berbagai penjuru tanah air ini. Kenapa demikian? Karena Pancasila yang dijadikan landasan oleh rezim Soeharto tidak lain dari utak-atiknya sendiri. Ia, dengan dibantu para penasihatnya menafsirkan Pancasila tidak keluar dari dua ideologi besar, yaitu liberalisme dan sosialisme. Ada semacam sinkritisme ideologi, di mana Soeharto menerapkan liberalisme dalam ekonomi, sementara dalam politik ia tetap menggunakan cara-cara pendahulunya, yaitu sistem sosialisme. Dengan cara itu, rezim Soeharto mengontrol semua pusat-pusat kekuatan politik, sekaligus menguasai pilar-pilar ekonomi, yang dibangun atas dasar korupsi, kolusi dan kronisme. Ternyata apa yang dibangunnya selama ini telah menghancurkan dirinya sendiri. Tembok yang dibangun kuat-kuat itu telah menimpa dirinya sendiri.

Kini era reformasi telah datang, Soeharto juga sudah lengser atau bahkan longsor. Pertanyaannya, apakah kita akan tetap mengulangi kesalahan yang sama, yaitu hanya mengganti pemimpinnya saja? Jika jawaban kita "ya", sebaiknya kita ucapkan selamat tinggal pada reformasi. Percuma saja perjuangan reformasi itu, sebab dalam waktu dekat mereka yang menggantikannya akan mengulangi hal yang sama. Kita tinggal menunggu kapan saatnya bangsa ini hancur untuk ke sekian kalinya.

Diringkas dan diedit ulang dari Majalah Suara Hidayatullah

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA



Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar)